Lataniya Web Dev

Browse By

Pendidikan Karakter adalah Pendidikan Hati

oleh: Ir. Sri Tresnahati Ashar, MSi

Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar kata Pendidikan Karakter dalam perbincangan mengenai pendidikan maupun pembinaan generasi penerus. Begitu banyak definisi maupun pengertian yang diberikan oleh para pakar terhadap pengertian Pendidikan Karakter, sehingga terkadang saking bingungnya bahkan kita tidak melakukan apa-apa. Artinya bahwa Pendidikan Karakter yang digadang-gadang sebagai sesuatu hal yang perlu dan penting hanya menjadi sebuah wacana yang tidak mem’bumi’, seakan seakan sesuatu yang sulit dan tidak bisa dilakukan. Ironis sekali!

Pengertian Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku atau perilaku, sehingga bisa disebutkan bahwa Karakter merupakan ciri khas individu itu sendiri yang bisa dilihat dari perilakunya sehari-hari.

Karakter bisa dilihat dari sikap atau perilaku yang ditunjukkan seseorang secara spontan. Orang yang memiliki karakter sebagai orang jujur, akan senantiasa berkata dan bersikap jujur secara spontan dan tanpa rekayasa dimanapun berada dan dalam kondisi apapun. Begitu menempelnya karakter pada diri seseorang maka ketika dia tidak bisa mewujudkannya dalam perilaku maka dia akan gelisah dan merasa tidak nyaman. Demikian juga orang yang memiliki karakter amanah akan sangat tidak tenang ketika suatu saat dia tidak bertanggung jawab atas amanah. Bisa dikatakan dalam istilahnya, karakter adalah nilai kehidupan yang sudah terbalung sumsum, tersimpan dalam bawah sadar.

Berdasarkan pembahasan dari para pakar bisa disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu generasi penerus memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, dan budaya. Dengan demikian, Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada generasi penerus yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai sebagai pribadi, juga sebagai makhluk sosial & bermasyarakat.

Dr. Thomas Lickona seorang akhli pendidikan karakter mengidentifikasi nilai-nilai yang patut ditingkatkan adalah kualitas kejujuran, kasih sayang, keberanian, kebaikan, pengendalian diri, kerjasama, ketekunan dan kerja keras. Sejarah mencatat bahwa pembentukan karakter pada anak dilakukan oleh tiga institusi penting yaitu rumah, agama, dan sekolah. Ketiga institusi ini bekerjasama mewariskan nilai-nilai untuk membentuk karakter generasi selanjutnya. Keluarga yang meletakkan pondasi, kemudian dilanjutkan pengembangannya oleh agama dan sekolah. Dalam lingkungan yang berkarakter maka akan tumbuh anak-anak berkarakter. Semua pihak yang memiliki kesempatan untuk mempengaruhi nilai-nilai yang dianut anak muda – selain sebagai teladan, juga mengajarkan kualitas-kualitas karakter ini.

Perlu kita ingat bahwa di’luar’ tiga institusi yang memiliki pengaruh sangat penting seperti disebutkan di atas, dipenuhi dengan berbagai macam fasilitas ber’bahaya’ yang justru melenakan, menyenangkan membahagiakan bagi generus kita. Sehingga jika kita ingin merebut perhatian anak-anak kita sangatlah dibutuhkan strategi pembinaan yang sangat piawai dan terintegrasi. Dimana nilai-nilai yang diajarkan di rumah, di sekolah serta ilmu agama yang dimiliki bukan hanya mampu dipelajari & dihafal namun mampu diserap, diketahui, dipahami serta secara sadar bisa menjadi batasan bagi diri mereka sendiri. Kita bukan hanya asik menikmati membuatkan ‘pagar’, namun berupaya untuk mengajari anak-anak kita untuk mampu membuat ‘pagar’ bagi diri mereka sendiri. Dalam proses pendidikan ini kita tulus ikhlas dan ridho menyiapkan wadah yang aman, nyaman, dan penuh cinta serta adanya pengertian, penerimaan, penghargaan yang dirasakan dan dinikmati oleh anak-anak kita. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa PENDIDIKAN KARAKTER ADALAH PENDIDIKAN HATI, dimana di dalamnya akan tumbuh bersama dan berkembang cinta dan kasih sayang serta nilai kepedulian yang tinggi.

Pendidikan Karakter tidak bisa lagi diberikan dengan metode pemaksaan, jangan begitu, jangan begitu, harus begini, harus begitu, tapi melalui pemahaman-pemahaman yang benar-benar berupa kesadaran dalam mengamalkan atau bertindak agar setahap demi setahap menjadi karakter yang kuat, kokoh dan tangguh. Jika kita mendidik generus kita dengan tangan besi, dengan umpatan, hukuman, penghakiman, ketidak puasan, maka generus kita akan menjauh, serta merta menghampiri kelenaan, kesenangan dan kebahagiaan diluar sana. Jika masih ada anggapan bahwa didikan yang keras dan kaku tanpa kompromi & toleransi akan membuat anak-anak kita menjadi kuat & bermental baja, barangkali kita belum melakukan perubahan dalam memahami mereka. Sebuah ungkapan yang inspriratif, DIDIKLAH ANAK-ANAKMU UNTUK MASA YANG BUKAN MASAMU.

Sebagai contoh, misal seorang anak memukul temannya di sekolah. Mengetahui perbuatannya, orangtua biasanya akan menyalahkan anak tersebut karena perilakunya yang dianggap kurang bertanggung jawab, bahkan mungkin dianggap perbuatan tercela. Padahal terjadi proses luar biasa dalam diri anak yang melibatkan berbagai pikiran & perasaannya sehingga pada akhirnya otak menggerakkan fungsi syaraf untuk melakukan pukulan, yang kita sebut sebagai perilaku memukul. Jadi perilaku yang muncul adalah sebuah proses pikiran serta pengaruh emosi yang akhirnya menggerakkan manusia untuk melakukan sesuatu. Dari sini bisa disimpulkan jika kita ingin anak melakukan perubahan perilaku maka kita perlu mengajaknya menjelajahi pola pikir & pola perasaannya sehingga bisa di intervensi agar sadar melakukan perubahan perilaku. Perlu diketahui, emosi manusia adalah kendali 80-90% dalam kehidupan manusia. Jika mampu menyentuh emosinya dan memberikan informasi yang tepat maka informasi tersebut akan menetap dalam hidupnya. Jika perilakunya bisa berubah & dilakukan terus menerus sehingga menjadi kebiasaann yang menetap, pada akhirnya akan membentuk sebuah karakter.

Telah disebutkan bahwa karakter dipengaruhi kuat oleh karakter keluarga dan lingkungan. Pengaruh lingkungan seringkali sulit kita hindari dan tidak mudah dijangkau, namun pengaruh keluarga bisa kita bangun melalui contoh-contoh konkrit perilaku orangtua. Misalnya nilai kejujuran dan amanah, bisa ditunjukkan dengan perilaku ibu yang sangat menghormati ayah, Ibu melakukan apa yang ayah minta dengan wajah ceria serta ketulusan. Kerukunan & kekompakan serta kerjasama ditunjukkan dengan keterlibatan ayah dalam membantu pekerjaan rumah tangga dengan ringan dan santai tanpa menggerutu.

Sebagai contoh sederhana yang saya lakukan dirumah dengan cucu saya yang berusia dua tahun. Cucu saya ini jika diminta untuk mandi selalu dia merajuk tidak mau dan dengan berbagai alasan menghindar. Biasanya dia bilang akan melakukan hal lain dulu, ini dulu itu dulu, sampai akhirnya dia juga tetap sulit diajak mandi. Alih-alih memaksakan kehendak dan menggunakan logika tentang pentingnya mandi, lebih baik saya menerima dan memahami keinginannya, serta memposisikan kerjasama diantara kami sebagai sesuatu yang penting.

Contoh percakapan kami. Saya berespon terhadap ungkapannya: Oh kamu lebih senang main ipad dulu sebelum mandi? Ketika dia berespon dan mengangguk, saya bilang: omam pingin kamu mandi, tapi kamu pingin main ipad dulu… bisa ga kita sepakat? Sienna boleh main ipad selama 10 menit, setelah itu mandi ya? Ketika dia mengangguk, saya bilang bisa gak kita deal? Kalau dia mengangguk artinya dia setuju dengan kesepakatan bersama itu, maka kami berdua saling menempelkan ujung jempol kami sebagai tanda bahwa kedua belah pihak sama-sama sepakat untuk melakukan kerjasama. Setelah semua kesepakatan bisa dijalankan, maka saya merangkumnya dengan menyebutkan:

Alhamdulillah itu namanya Sienna pegang janji ya. Sampai sekarang kami dapat menyelesaikan ‘benturan kepentingan’ dengan cara menempelkan ujung jempol dan sama-sama mengatakan kata kesepakatan deal, cara itu cukup ampuh. Tentunya jika belum sepakat, maka terjadi dialog yang diupayakan menang-menang. Dia senang melakukannya karena merasa di-manusia-kan, merasa dianggap kehadirannya, dimengerti kebutuhannya, diterima pendapatnya, dilibatkan dalam menyelesaikan konflik, meskipun usianya baru dua tahun. Diharapkan anak akan belajar tentang kejujuran, amanah, kepercayaan serta bagaimana membangun kerjasama. Ini contoh sederhana pendidikan karakter yang bisa dilakukan dalam keseharian kita dirumah. Sangat sederhana dan mudah, namun dampaknya sangat luar biasa. Akan tumbuh nilai-nilai kehidupan yang penting dimiliki seorang anak, sebagai generasi penerus bangsa.

Pendidikan Karakter memang sesuatu yang besar dan luas, namun dengan keluasan & ketulusan hati dalam membimbing tangan-tangan kecil generus kita, bisa dimulai dari yang kecil dengan cara sederhana, dalam lingkungan terdekat kita yaitu KELUARGA.