Lataniya Web Dev

Browse By

Idul Adha 1438 H: “ Dengan berqurban diharapkan mampu menyembelih nafsu sabu’iah (sifat kebinatangan yang rakus, tamak), mau berbagi dan tidak bakhil berkorban untuk kepentingan orang lain “

Sragen (2017).  Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kab Sragen, Jawa Tengah, dalam pelaksanaan  Sholat Idul Adha 1438 H dilaksanakan di 20 PC LDII Se-kabupaten Sragen, dihadiri kurang lebih 20.000 jamaah, baik warga LDII di tingkat PAC bersama masyarakat  sekitar Majelis Taklim,  Jum’at, 1 September 2017.

Alhamdulillah DPD LDII Kab Sragen tahun ini dapat melaksanakan Qurban sebanyak 247 sapi & 221kambing, senilai Rp 5.271.500.00,00, yang tersebar di 20 PC LDII & 174 PAC LDII. Jika dirata rata harga sapi 20 juta/ekor setara Rp.4,94 milyar (sapi yang dibeli jamaah LDII seharga 19-30 jt), demikian juga kambing harga rata-rata 1,5 juta/ekor setara Rp. 331,5 juta (kambing yang dibeli harga 1,5–2 juta/ekor), ini berkat tekad niat karena Allah untuk menetapi perintah Allah, untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan harapan memperoleh ridho dan rahmat Allah. Ini dapat terwujud atas kesadaraan bersama menabung  untuk Qurban selama satu tahun, dengan menetapi enam thobiat luhur LDII, sebagai modal social dalam membangun kekeluargaan, gotong royong, solidaritas dalam berbagi, yang dapat diimplemtasikan dalam berbangsa & bernegara di NKRI, demikian keterangan Ketua DPD LDII Kab Sragen H Sumarsono, SE, MM (juga pengurus FKUB & MUI Kab Sragen).

Suasana saat itu cuaca cerah, diselimuti kabut tipis, semilir angin gunung Lawu menghembus, menambah sahdu suara takbir yang bersaut-sautan yang dilantunkan para jamaah Shalat Idul Adha 1438 H, setelah selesai rangkaian Sholat Idul Adha 1438 H, dilanjutkan pembacaan sambutan  Ketua DPW LDII Provinsi Jawa Tengah (Periode tahun 2014-2019), Prof Dr H Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum (juga Guru Besar Sejarah Undip), yang berisi, yaitu :

Pertama-tama marilah kita selalu bersyukur atas semua karunia nikmat dan rahmat Allah yang tidak terhitung jumlahnya, terutama sekali atas nikmat terbesar dalam hidup kita yakni nikmatul islam wal iman wal ihsan dan semoga menempatkan kita sebagai insan khairu ummah, yang senantiasa taat beribadah dalam syariat dan muammalah yang seimbang, menjaga keharmonisan kehidupan fiddunya wal akhirah. Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Syariat yang terkandung di dalamnya begitu indah dan memberikan nilai serta rasa keadilan yang haqiqi bagi seluruh umat manusia baik muslim maupun non muslim. Hukum, aturan, nilai, etika dalam syariat Islam demikian lengkap dan sempurna, sehingga tidak satu jiwa pun yang dirugikan olehnya.

Selanjutnya semoga sholawat, salam dan barokah selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang senantiasa kita nantikan syafaatnya besok pada hari kiamat. Semoga sholawat dan salam juga tercurahkan kepada keluarga dan kerabat Nabi, para sahabat, para pengikut, dan penerus perjuangannya sampai akhir zaman. Aamiin !

Pada hari ini, kita bersama-sama bertakbir, bertahlil dan bertahmid sebagai wujud syukur atas semua nikmat dan keagungan asma-Nya dan kemudian kita sholat sebagai wujud penghambaan yang mendalam dalam kesadaran betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di hadapan Allah SWT. Ketika kita bertakbir harus ditanamkan kesadaran bahwa hanya Allah yang maha besar, maka tidak sepantasnya apabila kemudian manusia merasa berlaku angkuh dan sombong. Ketika kita bertahlil harus ditumbuhkan kesadaran bahwa hanya Allah yang patut disembah dan ditakuti, karena Allah maha melihat dan maha mendengar, meski di tempat yang tersembunyi dan tidak ada siapa-siapa. Demikian juga ketika kita bertahmid harus ditanamkan keyakinan bahwa hanya Allah yang patut dipuji dan disanjung, karena Dia yang mempunyai segalanya, Dia yang maha kuasa, Dia yang maha memberi. Hanya Allah yang berhak atas segala puji dan sanjungan.

Bagi orang diberikan kekayaan harta, harus memahami siapa yang sebenarnya memberi kekayaan, kemudian dia bersyukur dan memuji-Nya. Demikian juga orang yang diberi pangkat, jabatan, kedudukan haruslah menyadari dari mana semua itu datangnya, sehingga selalu bersyukur dan memuji-Nya. Allah telah sengaja menjadikan manusia ini berbeda-beda dalam pangkat dan derajatnya, semata-mata sebagai cobaan dan harmonisasi untuk bisa  saling memberi, bersinergi dan menghormati, bukan saling merendahkan dan menghinakan.

Hari ini adalah hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban. Hari Raya Idul Adha disebut hari raya qurban karena dilaksanakan sebagai bentuk peringatan pengorbanan luar biasa Nabi Ibrahim A.S., ketika bermimpi diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail, putra satu-satunya yang lahir dari sebuah penantian panjang. Atas kesabaran, kethoatan, dan pengornanannya itu maka oleh Allah diganti dengan seekor domba korban yang didatangkan dari sorga. Sesungguhnya Allah hanya ingin mencoba Nabi Ibrahim dengan cobaan yang amat berat, dan ternyata Nabi Ibrahim tetap istiqomah dalam iman dan taqwanya dan tidak tergoyahkan oleh bujukan iblis yang silih berganti menggoda melalui isteri dan putranya.

Idul Adha disebut pula sebagai hari Raya Haji karena pada saat ini bayak umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Mekah Al Mukarramah untuk menunaikan ibadah haji, di mana hampir seluruh rangkaian syariat dan ritualnya merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim, isteri dan anaknya. Mereka tinggalkan semua atribut keduniaan yang berupa harta, pangkat dan jabatan yang selama ini selalu melekat dan dibanggakan, untuk berbaris beriring-iringan dengan membaca talbiyah menghadap kepada Allah SWT. Para tamu Allah ini hanya berbalut dua lebar kain ihram yang tidak berjahit. Sungguh merupakan sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Berkorban atau menyembelih adalah perintah Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al Kautsar, artinya:Sesusungguhnya Kami telah memberikan nikmat kepada kalian yang banyak; Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkorbanlah; Sesungguhnya orang-orang yang membencimu adalah orang-orang yang terputus (dari nikmatKu);

Setiap kali kita merayakan Idul Adha, angan-angan kita tentu tidak bisa terlepas dari sejarah perjalanan hidup Nabi Ibrahim A.S., Siti Hajar dan Nabi Ismail, karena memang syariat ibadah haji dan penyembelihan binatang qurban adalah sunnah nenek moyang kita Nabi Ibrahim A.S., sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat hadits Rasulullah saw; artinya: “ Bertanya sahabat Rasulullah saw, wahai Rasulullah apa sesungguhnya penyembelihan itu? menjawab Rasulullah ia adalah sunnah bapak kamu sekalian Nabi Ibrahim, mereka bertanya kembali:  kalau demikian apa nilainya untuk kami ya Rasulullah? menjawab Rasulullah: setiap helai bulu kasar satu keabaikan, mereka bertanya kembali kalau bulu yang halus bagaimana ya Rasulullah, menjawab Rasulullah setiap helai bulu halus satu kebaikan”.

Di dalam hadits yang lain tentang ibadah qurban Rasulullah saw bersabda; artinya: Tidak ada pengamalan anak Adam dari sebuah amalan pada Hari Raya Qurban yang lebih dicintai kepada Allah selain menyembelih binatang qurban, ia akan datang besok pada hari qiyamat dengan tanduk-tanduknya, dan bulu-bulunya, dan teracak-teracak kakinya, dan sesungguhnya darah qurban niscaya telah sampai kepada Allah pada suatu tempat sebelum ia menetes ke bumi, maka bergembiralah seseorang yang telah berqurban“.

Namun demikian harus kita fahami bahwa hakikat dari semua syariat amalan ibadah qurban bukanlah fisik dari binatang qurban yang kita sembelih, tetapi sesungguhnya Allah ingin mengetahui seberapa besar taqwa kita kepadaNya sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an Surah Al-Hajji ayat 37; artinya: Tidaklah memperoleh kepada Allah daging-daging qurban dan tidak pula darah-darahnya, akan tetapi Allah memperoleh ketaqwaan dari kamu sekalian .. al-ayah “. 

Qurban adalah upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan harapan memperoleh ridho dan rahmatNya. Selain dimensi ritual seperti tersebut, ibadah qurban juga memiliki dimensi sosial sebagai ajang solidaritas sesama manusia. Dengan berqurban seseorang diharapkan mampu menyembelih nafsu sabu’iah/kebinatangannya yang rakus dan tamak untuk kemudian mau berbagi dan tidak bakhil berkorban untuk kepentingan orang  lain.

Selanjutnya dengan momentum Idul Adha tahun ini yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa mengambil spirit ibadah qurban Nabi Ibrahim A.S. Spirit yang paling penting untuk diwarisi dari Nabi Ibrahim A.S dan Nabi Muhammad SAW adalah keikhlasan berkurban yang tidak pernah ada taranya dalam sejarah kehidupan manusia dimuka bumi ini. Kejayaan yang dicapai bangsa Indonesia pada waktu melawan kolonialisme adalah terutama karena semangat rela berkurban dari para pahlawan dan segenap rakyat Indonesia. Sebaliknya, berbagai persoalan kebangsaan yang sekarang ini menghimpit bangsa Indonesia barangkali disebabkan karena semakin menipisnya semangat berkurban di antara kita sekalian. Kita hanya mementingkan diri sendiri.

Pada saat ini, keikhlasan berkorban untuk kemaslahatan umat manusia, dan akhlaqul karimah yang menjunjung tinggi nilai dan derajat kemanusiaan, seolah sudah menjadi barang langka. Individualisme dan egoisme sempit telah dituhankan. Istilah adat ketimuran yang tepo-sariro, sopan santun, lemah lembut, hanyalah tinggal slogan. Banyak di antaranya lebih mengedepankan ego individu dan mengikuti hawa nafsu dibanding harus mentaati norma  agama dan mendengar bisikan hati nurani yang suci. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi krisis moral, akhlaq dan agama yang  memprihatinkan, padahal mungkin di antara mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan.

Dalam kehidupan bangsa Indonesia yang sedang dicoba oleh Allah SWT dengan berbagai dekadensi moral, korupsi, penyalahgunaan wewenang, penyalahgunaan obat-obat terlarang, maka keikhlasan berkorban sangat penting dan insya Allah akan menjadi salah satu kunci menyelesaikan permasalahan-permasalahan masyarakat, bangsa, dan negara tersebut. Seluruh elemen masyarakat dan pimpinan perlu secara ikhlas berkorban, yaitu mengorbankan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umat, dan berkorban mengerem nafsu negatifnya untuk melakukan penyalahgunaan wewenang dan perbuatan munkar lainnya, serta berkorban untuk untuk tidak mengorbankan hak-hak orang lain ”.

Demikian nasehat hari Raya Idul Adha 1438 H pada hari ini. Semoga apa yang kami sampaikan membawa maanfaat. Kami segenap pengurus LDII menyampaikan selamat berhari Raya Idul Adha, Semoga Allah SWT menerima ibadah qurban kita, dan semoga saudara-saudara kita yang tahun ini beribadah haji Allah menerima ibadah hajinya  dan berhasil menjadi haji mabrur / mabrurah.  Aamiin !

Setelah itu para jamaah Sholat Idu Adha, makan bersama di lanjutkan penyembelihan hewan qurban baik sapi maupun kambing, untuk dibagikan kepada yang berhak menerimanya, dengan suasana kekeluargaan, kekompakan, kebersamaan, gotong royong. (@nt-kimdpdldiisrg)